Mungkin Doa Yang Dikabulkan

Dari setahun yang lalu babe gencar banget nyuruh gw buat mulai nyicil rumah. Tapi seringnya gw tolak dengan cara dikasih senyum. Sampai akhirnya akhir tahun lalu gw ditawarin nyicil rumah lagi. Katanya ada kelebihan tanah developer.

Akhirnya gw iya’in meskipun dengan enggan. Alasan pertama, gw merasa ga butuh rumah sendiri. Wong rumah yang ini aja cuman ada gw sendiri. Dua, duit buat nyicil rumah bisa dipakai buat nabung traveling, eh.

Semua proses gw jalani setengah hati. Gw belum pernah liat bentukan rumahnya sampai sebelum akad – which was last month
Bulan ini adalah cicilan pertama dari kredit selama 20 tahun. Semoga gw dicukupkan rejekinya untuk bayar cicilan dan juga nabung traveling.

E tapi beberapa saat sesudah akad, gw ingat doa yang pernah disisipkan setelah sholat.
Dulu gw pernah berdo’a buat diizinkan bangun rumah sendiri yang cukup luas. Salah satu bagian rumah gw niatkan untuk dijadikan perpustakaan gratis.

Rumah kecil in mungkin doa yang dikabulkan, meski tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan
Rumahnya kecil, tipe 36. Sudah jadi, ga dibangun dari awal sesuai desain yang gw inginkan. Dan tidak sepaket dengan suami.

Tapi tak apa lah. Tuhan kan ga harus mengabulkan semua yang diinginkan hambanya sekaligus.

Mungkin sekarang gw baru pantas nyicil rumah dan buka perpus gratis buat nyicil suami, eh

Tapi rumahnya masih harus direnovasi. Rak bukunya masih belum bisa disiapkan.
Tuhan, boleh kirimin suami secepatnya? Biar bangun perpustakaannya bareng-bareng
He

Catch ya later
Cheers 🙂

Masih Modal Nekat

Drama nekat kali ini berawal dari informasi babang Fahmi tentang konferensi di Tokyo. Awalnya ga kau ikut, e tapi ternyata panitia membuka kesempatan scholarship, which means berangkatnya dibiayain sama panitia.
Oke lah, fix-lah submit abstract dengan harapan dapat beasiswa.
Bulan maret pengumuman abstrak yang diterima sudah keluar. Abstrak gw, nyuen dan Fahmi masuk.
Dan kegalauan pun dimulai.
Registrasi sekaligus pembayaran terakhir untuk presenter adalah 30 April, sementara pengumuman siapa yang dapat beasiswa 30 Mei.
Great
Maka diajukan lah proposal ke kampus dengan harapan ada dana yang keluar sebelum 30 April.
Proposal masuk
Tapi gosip punya gosip, dana yang mungkin, ulang, mungkin, sekali lagi MUNGKIN dikeluarkan kampus tidak lebih dari setengah dana yang diajukan.
Alasannya sederhana, gw menghadiri acara ini atas nama pribadi dan tidak menguntungkan kampus
Lhaaaa… Logikanya. Kalo CV gw bagus, berarti kampus punya sumber daya yang qualifirf. Yang artinya kampus akan punya track record bagus juga
Tapi kadang kayangan adalah satu dari sedikit misteri besar dunia yang tidak bisa dipecahkan

Obrol punya obrol bersama babang fahmi di satu malam minggu. Saat babang fahmi cukup kaya untuk mentraktir gw dan een di calais. Akhirnya diputuskan untuk bayar registrasi dengan uang masing-masing sambil menunggu keputusan kampus sediri soal proposal dana.
Anyway, nyuen ga ikutan pusing karena dia ga berencana hadir. Mengingat baby akan keluar bulan segitu.

Tanggal 30 April sore, fahmi resmo registrasi untuk 2 orang. Gw yang kebagian jatah transfer duit pendaftaran. Ngirim nya ke rekening di Tokyo.
Tapi entah siwer gimana, gw salah masukin nomor rekening. Jadilah sampai hari ini duit pendaftaran masih berada di antah berantah. Semoga bisa balik ke rekening gw.
Mikirin tiket berangkat aja udah bikin pusing, sekarang malah dag dig dug nungguin dana balik ke rekening

Udah dosen, tapi masih begini aja kalo berangkat

Catch ya later
Cheers 🙂

Kelar

Seminar Nasional E-Dept udah selesai. Tahun ini rasanya lebih cape daripada tahun kemaren, padahal tahun kemaren jauh lebih dadakan dari pada yang sekarang.
Mungkin karena drama-nya yang luar biasa menguras emosi

Habis seminar, terbitlah serdos… Ah, padahal lagi pengen nulis buat blog yang dangkal…

Yah…
Absen dulu lah bulan ini

Catch ya later
Cheers

Back On The Road

Lagi nunggu di angkot yang akan meluncur ke Barabai. Liburan di Jogja sudah berakhir di hari Senin. Sekarang saatnya kembali bekerja mengumpulkan remah-remah untuk sangu bulan Oktober
Ah, tapi sebelum Oktober ada Agustus – semoga bisa berangkat ke Tokyo Agustus ini
Jadi ceritanya waktu di Jogja gw dapat e-mail konfirmasi bahwa abstract yang gw kirim bareng Nyuen diterima di konferensi di Tokyo
Alhamdulillah
Tapi biaya ditanggung sendiri
Masih belum bikin proposal untuk minta dana ke kampus. Dana yang diminta pasti gede, dan ga begitu yakin bakal disetujui semuanya.
Ah, tapi kita coba sajalah…

Catch ya later
Cheers 🙂

Kabur lah dulu

Sekarang gw lagi Jogja, bareng een, nginep di rumah mami – as usual. Berangkat ke Jogja hari Kamis – Kamis subuh lebih tepatnya. Gw-nya lagi bosan dengan kerjaan dan drama di kampus, dan merasa perlu break. Oktober nanti rencananya memang bakal nge-trip tapi rasanya Oktober terlalu jauh. Akhirnya jalan-lah ke Jogja yang harga makanannya murah-murah dan bisa nginap gratis.
Kekeke
Nyampe di Jogja Kamis pagi, dijemput mami di Bandara. Dari bandara, langsung mampir ke warung soto Jogja yang kata papi pernah jadi tempat syutingnya AADC2.
Selesai sarapan, pindah ke rumah mami yang masih se-cozy dulu…
Hari pertama diwarnai dengan drama nunggu bis 3A yang lamanya luar biasa! Jadi awalnya gw sama een berencana ke Hartono Mall, emol baru di Jogja. Maminya Papi nyaranin naik transjogja karena murah.
“Nunggunya agak lama ya mba,” kata si petugas halte pas kami datang.
Kita sih mikirnya, “yah, seberapa lama sih? Paling 20 menitan”
Tapi ternyata 20 menit berlalu, dan bisa belum kunjung datang.
Gerobak siomay berlalu begitu saja, bis pun masih belum nongol. Tukang es krim lewat, dan bis belum muncul.
Sementara perut mulai keroncongan, kepala mulai nyut-nyutan…. Nooooo…
Setelah hampir 45 menit, muncullah bis 3A dari kejauhan. Begitu pintu bis kebuka, anak-anak SMA kelihatan berdiri di dalam bis. Yah… Tapi harus tetap masuk.
Jalan lah itu bis diiringi ucapan Alhamdulillah. Meskipun bis penuh dengan aroma-aroma khas anak sekolah, sementara AC sepertinya ga berfungsi, tapi setidaknya gw ga bengong kelaperan lagi di Halte.
E tapi jalannya kok berasa jaih banget ya. Ga sampe-sampe
Jalan teruuuuusssss.
Supir bis pun berganti. Bis masih belum nyampe juga di Hartono emol.
Lalu tiba-tiba supir bis mengumumkan, “semua penumpang harus turun karena ada yang salah dengan bis.”
Astageeee
Turun lah gw dan een.
Buka aplikai go-jek, biaya ojek ke emol cuman 4rebu tapi akhirnya malah naik ojek biasa dan harus bayar 25rebu
Haiyaaaaaahhhh
Sampe emol kelaperan level dewa. Niatnya sih nyari warung gudeg di deket emol, eh, ga ada.
Masuk ke emol, muterin foodcourt-nya, dan ga nemu stand yang jualan gudeg. Akhirnya pesanlah nasi goreng 19rb untuk berdua sebagai pengganjal perut.
Dari foodcourt, pindah ke starbucks. Lagi ada promo buy 1, get 1 dengan T-cash. T-cash nya pinjem mami.

Setelah ngadem-ngadem cantik di emol, kita pindah ke malioboro. Pake Go-car dan cuman bayar 18rebu-an. Puja kerang ajaib!

Sampai malioboro, langsung ke gudeg Yu Djum
“Nasinya baru mau dimasak, mba. Nunggu sekitar 1 jam ya.”
Astagaaa…. Lagi? Nunggu?
Ya sudah lah… Jalanlah nginder-nginder malioboro
Satu jam kemudian, balik ke warung yang sama, “masih belum matang mba. Nunggu 30 menit-an lagi ya!”
Hedeeeehhh… Hayati sudah lelah menunggu bang!

Akhirnya kita nunggu di warung karena sudah terlalu lelah jalan.
Ga sampe 30 menit, gudeg akhirnya tersaji lengkap dengan nasi yang baru matang.
Nyessss….
Makan lah dengan hening….

Selesai makan, kita balik ke rumah mami. Baru jam 9an sih, tapi badan sudah berasa capek dan mata udah sepet, efek bangun jam setengah 4 subuh.

E ternyata pas sampe rumah mami – masih dengan mengandalkan Go-Car – ternyata rumahnya kosong. Satu keluarga lagi keluar
Astageeeee….
Nyoba nelpon mami, tapi hape mami mati
Daaaan baru sadar kalo ga pernah nyimpen nomor papi…
Astageeeeee
Akhirnya harus nunggu satu jam sambil kebelet pipis sebelum akhirnya mami pulang.

Drama #day1 berakhir dengan migrain

#day2 jauh lebih menyenangkan dari hari sebelumnya. Mami ngajakin ke pantai. Seperti biasa, pilihannya jatuh di pantai yang ada di sepanjang gunung kidul. Kali ini jalan ke pantai Ngerenehan, Ngobar dan Nguyahan yang berada satu jalur.
Pantai Ngerenehan ombaknya bersahabat dan sepi pengunjung.
Pantai Nguyahan, ombaknya lumayan gede tapi yang paling bagus dari ketiga pantai ini.
Di Pantai Ngobar cuman ada tebing-tebing, tanpa pantai.

#day2 ditutup dengan makan malam puas di Ambarukmo plaza dengan menu Udon dan dessert berupa Patbingsu….
Aheey…
Pulang ke rumah nyempetin nonton derama ahjussi cakep di Liar Game trus lanjut Criminal Minds Beyond Borders

Hari ini rencananya balik ke malioboro untuk nyari kain batik titipan babang Fahmi di pasar bringharjo

Two days left…

Catch ya later
Cheers

Hug

When he opened his arms as soon as I came, asking for hug.
He hugged me tight, saying his plan had fallen apart. Things changed.
Oh my dear
And I hugged him tight.
“I’ve cried last night. Now, I won’t cry.”
I wish I had come one day earlier. Just in case he needed a shoulder to cry on.

We hugged.
But we had no pizza last night.

My dear, let’s just wait a little bit longer, shall we?

Catch ya later
Cheers 🙂

F*ck

Saw this screenshot of conversation in a forum for pedo in newsfeed of my facebook and instagram.

Fuck them.

Many of us have to struggle for years but they talk about what they did like it is some kind of fun thing to do. It’s not fun at all for us.

It is sick. And killing us

It is not some thing you can brag about!

Some people are indeed such a sick bastard

Fuck!

You don’t brag about it unless your mind is waaay to sick! You should be ashamed about it!

Shit! Can we just drag them on the road ALIVE

No one should be proud about it! How could you’re talking about it like it is something normal? This shit is fucking beyond normal!

Having the urge to ‘touch’ kids is not normal!

Bragging it is so fucking sick!

Shit

That Habit

I guess the downfall of learning linguistics is that you’ll sometimes subconsciously pay attention to how people speak. You’ll start noticing who is being dominant in the conversation. Who cut the lines the most. What topic is brought. Why. What language feature someone has.

Things that you are not supposed to pay attention to.

I guess learning linguistics is a curse when you start developing a habit of scrutinizing how others speak.

Gah

Catch ya later
Cheers 🙂